Senin, 11 Mei 2015

Mata


Mata I
Aku terpaku dalam sunyi.
Menatap bola matamu yang seperti lubang kunci.
Menyeretku masuk begitu saja tanpa permisi.
Membisikkan sesuatu, seperti: Kamulah yang selama ini aku cari.
Aku telah jatuh cinta.
Pada rinai matamu yang seteduh semburat senja.
Pada bola matamu yang kata mereka biasa saja.
Pada bola matamu yang di situ mungkin terletak takdirku menuju syurgaNya.
Hey, kamu! Jangan menatapku berlama-lama.
Sebab mata hitam itu memenjarakanku dalam satu ruang: ingin selalu bersamanya.


Mata II
Kamu
Kamu
Tatapan mata kita saling bertemu.
Ada tawa setelahnya.
Seperti melepas rindu yang begitu lama.
Mata. Begitulah arti namamu.
Hey, mata kedua! Takdirkah ini?
Senyum kita di hari itu menjadikan aku berharap kita adalah sahabat sampai syurgaNya.
Dan aku akan selalu mengaminkannya.
Mata kedua, terima kasih telah menjadi payungku hingga kini.
Tanpamu, bisa saja hujan itu selalu menderasku tanpa henti.

Mata III
Kikuk. Begitulah polosnya dirimu.
Mata ketiga, kamu adalah mata panda.
Berteduh denganmu adalah satu warna: Biru.
Lembut. Sejuk. Damai. Bahagia.
Pertemuan kita adalah di sela-sela jingga.
Menggores di hijaunya rumput boulevard.
Kamu, sang pelukis hari yang berwarna-warni.
Tanpa kamu sadari kamu sering membuatku tak kalah jatuh hati.
Ups, kamu menumpahkan catnya!
Dan pelangi… melengkung indah di wajah kita berdua.

Mata IV
Kalau kamu bersedih ada binar di matamu. Terlihat jelas.
Begitu bisikmu.
Ada mata yang keibuan padamu.
Bermata empat.
Bahkan rangkai huruf namamu berjumlah empat.
Kamu, yang selalu melihat di balik mataku.
Mengerti berbagai materi di sana.
Kamu, yang selalu menertawai tingkah grogiku.
Haha. Ya, kamu sangat paling tahu bagaimana mencairkan suasana.
Semua dukaku kamu ekstraksi ke dalam tawa yang murni.
Kamu, mata keempat yang melarutkanku dalam mineral persahabatan kita.

Mata
Ada yang melihat dari dekat.
Ada yang menatap dalam diam.
Ada yang melirik tajam.
Ada yang berlinang.
Ada yang berkedip.
Ada yang mengerjap.
Ada yang menutup.
Mata, mata, mata.
Dia membawaku dalam satu titik penuh tali.
Yang ketika semua kutarik, membawa pertemuan yang menarik.
Empat mata-mata yang menjadi penghabis tinta.
Di kertas perjalanan peranku di panggung dunia.
Mata, inginku melihat mereka dan membersamai mereka di syurgaNya.

Aamiin.

note: please jangan sangkut pautin dengan simbol mata yak.hahaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar