Minggu, 23 Agustus 2015

Surga yang Tak Dirindukan


Dan kini ada dia 
Mungkin Tuhan menguji aku 
Namun bagaimana bila ikhlas 
Tak hadir di hatiku 
      Jadi ceritanya, kemaren pada tanggal 20 Agustus 2015 daku pada akhirnya luluh juga mau nonton film ini. Hehehe. Lalu, menurutku filmnya bikin… baper (dateng-dateng langsung komen aja lo, Din). #Eh Nggak deng. Mungkin aku dengan penonton lain akan beda dalam mengambil hikmah cerita di film ini. Mungkin juga kuantitas air mataku dan penonton lain juga berbeda. (Eh, yang ini mah udah jelas, Din.) Iya, film ini membuat saya berkali-kali menggigit bibir menahan tangis soalnya malu sama temen sebelah. (Iya gak, Mata Panda? :p)

Syurga itu ada bagi orang-orang yang ikhlas dan sabar

Salah satu kutipan dari Arini di film tersebut yang diperankan oleh Laudya Cintya Bella. Seorang gadis yang suka sekali dongeng (Kayak aku..kayak aku.. *ngacungin tangan*). Seseorang yang berharap kisah dongeng di hidupnya akan berjalan indah dengan sang raja di sampingnya yaitu Mas Pras alias Fedi Nuryl ganteng. Hihihi. Tapi tiba-tiba dongeng itu dipatahkan dengan kehadiran peri jahat yang nggak jahat-jahat juga sih, baik kok. Peri itu namanya Meirose *maap, saya gatau nama aslinya*.

Agak kesel juga sih sama ceritanya. Bikin ngomong sama diri sendiri melulu. “Iiiiih… kok gitu sih? Kok..kok.. kokok petoook..” Wkwkwkwk. Di film ini tuh mengajarkan sesuatu bahwa ujian dari Allah bisa datang lewat cara apapun. Termasuk sebuah titik klimaks dalam cerita dongeng yang kita rencanakan. Cinta yang harus dibagi itu emang susah. (Susah ya, Din? Kayak kamu. #Lho). Hahaha… iyaaa… Aku takkan sanggup jika jadi Arini >< Aku kan orangnya cemburuan. Sama temen aja cemburuan. Wkwkwk. (Siapa tuh yang nangis kejerrr gara-gara kakak asuhnya punya dua adek asuh? :p)

Lanjut, Mas Bro Mbak Bri, bagian paling sedih dari film ini adalah ketika anaknya Pras sama Arini berharap ayahnya tetep ada di rumah. Astaga… ngalir ngalir deh ini air mata. Paling gak tega liat anak kecil sedih begitu :”””( Maap, saya lemah. Padahal kan kondisinya Arini-nya lagi maraaah banget sama si Pras. Yaiyalah, gue juga jadi Arini bakalan marah keleus! Kalo gue kejam sih bakalan gue bilang gini sama si Pras: “Kenapa nolong harus dengan cara nikahin? Dia mau bunuh diri? Yaudah biarin aja bunuh diri! Kalo gini caranya sama aja kayak kamu bunuh aku secara perlahan. Sekarang kamu pilih. Pilih dia apa aku.. Pilih dia apa aku..” *Lalu tukang obat batuk Engkoh Nurdin pun dateng* Wkwkwk gagal sedih.

Tapi ada bagian mengharukan juga, bikin hati dini jadi maknyess. Waktu Meirose inget kejadian-kejadian sama Mas Pras-nya. Daaann… This is the important thing! Intinya sih, selama ada Allah di sini *nunjuk ke jantung* kita nggak akan sedih. Dan setelah kalimat itu, tiba-tiba semua yang bikin dini sedih,  hilang begitu aja. Menyadarkan dini betapa Allah selalu menyediakan bahagia jika kita di dekatNya. Betapa Allah rindu kita bersimpuh di hadapanNya makanya kita dikasih kesedihan itu. Allah pengen kita meminta kepadaNya. Allah.. Makasih banyak yaa nggak mematikan hati ini. Makasih Allah udah mengulurkan tangan supaya dini nggak jauh lagi dariMu. Maaf kalau selama ini dini lalai terhadapMu. Apapun itu yang ada di hidupku, pasti itulah yang terbaik menurutMu. Dan pasti itulah yang dini butuhkan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. :) Love You, Allah.


Finally, endingnya yang membuat saya tidak puas sebenernya. Kurang greget gimana gitu rasanya. Ngegantung banget endingnya ih. Hehehe. Maap maap nih yee kalo selera kita beda gituh. Overall sih bagus kok filmnya. Mungkin lewat film ini, Allah mau menyapa Dini. :””””” Terima kasih Bunda Asma Nadia. Semoga cerita-cerita selanjutnya tetap bisa menginspirasi :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar