Sabtu, 10 Oktober 2015

KDI (Kisah Dara dan Izzy) #TantanganNulisDuet

"Oi, lu tau gak kalo Pak Said diganti?" ujar Nifa heboh di kelas 11 ipa 2.

"Yang boong lu? Pak Said yang palanya botak itu kan?" sahut Nana dengan suara bassnya.

"Iyeee. Gara-gara lu kali, Na." tuduh Nifa pada Nana.

"Diiih.. Gue kan di kelas paling anteng." Nana mengedikkan bahu.

"Prett banget. Semua guru juga tau kalo lu jelmaan cacing, Na. Kagak bisa diem. Hahahaha." Seketika Nana pun menejar Nifa untuk menggetok kepalanya.

"Eh... eh.. kenapa sih kalian?" ujarku yang sedari tadi membaca buku pelajaran tanpa mendengarkan dengan sungguh-sungguh percakapan kedua sahabatku ini. Secara, kayaknya percakapan mereka jarang ada yang bermanfaat.

"Duh, Dar.. Dar.. makanya jangan baca buku mulu. Kudet kan jadinya." kata Nana sambil memegang kerah belakang baju Nifa dengan tampang 'Yes, ketangkep juga akhirnya ini bocah!'

"Aku denger sekilas sih kalian bilang Pak Said diganti. Terus yang gantiin beliau ngajar bahasa inggris siapa?"


Aku bertanya karena penasaran memangnya ada yang mau mengajar kelas se-absurd ini? Belum sempat Nifa, si sumber gosip menjawab, seseorang sudah masuk ke dalam kelas. Semua murid terdiam. Bahkan Nana sampai hilang ingatan untuk menggetok kepala Nifa.

"Ehem.. Good Morning, students."ucap seseorang tersebut sambil tersenyum lebar. Anak-anak masih terdiam. Bahkan aku pun ikut terdiam, lalu tertunduk.

"Excuse me.. Is there something wrong?"ucap lelaki itu lagi.

"Sor..ry mister. The tempat syuting is not here."jawab Nana yang disambut tawa satu kelas.

Lelaki separuh baya itu mengernyitkan dahi.

"Your mean?"tanyanya pada Nana.

"Eh.. Mister teh is not Andi Lau?"jawab Nana lagi dengan inggris yang super berantakan.

"Hahaha. Im your english teacher. Let me introduce my self. My name is Mr.Izzy. I will make your english be easy." Mr.Izzy masih tersenyum. Dan Aku masih tertunduk.

Baru kali ini pelajaran bahasa inggris dimulai dan diakhiri tanpa kegaduhan. Mr.Izzy mengajar dengan sangat baik.

Sebelum Mr.Izzy meninggalkan kelas, "Kakak ngapain di sini?"tanyaku sambil tersenyum kecil.

"Ngajar bahasa inggris."jawabnya dingin seperti biasa. Berbeda sekali dengan ketika ia mengajar tadi.

Aku pun terdiam dan kembali ke tempat dudukku. Melihatnya meninggalkan kelas.

Kak Izzy, sahabat dari Kak Imron, kakakku. Aku sudah cukup akrab dengannya. Tapi entah kenapa setahun belakangan sikapnya berubah.

"Dar, lo kenal sama Pak Andi Lau?"cecar Nifa padaku. Kebiasaan deh pasti mau ngegosip lagi.

"Iya. Dia temen kakakku."Aku menjawab sambil lalu.

"Hmm.. kok lo ga pernah ngasih tau kita sih?" Nana ikut-ikutan menginterogasiku.

"Kan dia cuma sebatas teman kakakku." Aku menjawab sekenanya.

Tapi aku tahu pasti bahwa mereka bisa melihat 'ada apa-apa' denganku. Sepanjang hari, aku tak bisa fokus dengan pelajaran.

Kak Izzy, kakak yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Canda, tawa, tangis, dan segala cerita pernah aku bagi dengannya. Tapi seperti kata sebuah buku yang aku lupa judulnya bahwa 'A Man and A Woman cant just be a friend'. Ya, satu persatu segala cerita itu seperti sebuah pupuk yang menyuburkan benih-benih rasa dari perhatian Kak Izzy kepadaku. Aku yang bingung dan masih remaja terkadang berlebihan dalam mengekspresikan perasaan ini. Mungkin itu sebabnya Kak Izzy mulai menjauh dariku, membenciku. Dan kini, dia hadir lagi di hidupku. Ya, Tuhan... Apa maksudMu?

*      *      *
Dara. Nama itu kian lama makin terus mengusik hari-hariku.

Bermula dari kunjungan ku ke rumah Imron saat itu, saat aku masih kuliah dulu.

"Wey iim, gue ke rumah lo yah? Numpang bikin skripsi, komputer gue mokat, kena SARS."

"Ebujuk, bisa begitu tuh kompi, skrg gimana? Rawat inap apa ICU?"

"Udah gue kubur kemaren, udahlah gue pinjem komputer lu yakk?"

"Beress, kerumah aja."

"Beneran nih ga ngerepotin?"

"Iyee kaga."

Sebenarnya sesekali aku sering ke rumah Imron utk mengerjakan beberapa tugas. Namun kali ini berbeda, ada seseorang yg sejenak membuat bumi tak berputar karena senyumnya.

"Ini kak minumnya, silahkan."

"Eh... Siapa?"

"Ade gue zy, kenalin Dara, dia SMP di jawa, sekarang mau lanjutin di sini SMAnya."

"Dara kenalin, sohib mas di kampus, doi paling pinter di kampus, skligus yg paling prihatin, hee"

"Eh, hus bkn prihatin tapi zuhud, kaya ulama dulu. Hihihi."

"Oh iya kak? Bisa ajarin dara bahasa inggris dong? Masim mah galak kalo ngajarin dara..."

"Hmm, boleh, skalian kaka ngrjain skripsi di sini kamu nimbrung aja..."

"Iye gitu aja, ajarin ade gue yah, oh iya yg sabar yah ngjarinnya dia emg agak 'susah'"

"Ye mas mah, ade sendiri diledekin..."

Begitulah waktu berjalan, tiap sore aku menghabiskan waktu dirumah Imron utk mengajarkan Dara bahasa inggris dan mengerjakan skripsiku di rumah imron.

Benar kata pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, bahwa cinta hadir seiring waktu bersama. Lumrah memang mencintai seseorang, namun... Dara hanyalah seorang anak SMA kelas sepuluh, usianya belum genap16 tahun sementara aku, mahasiswa semester akhir yg menunda kuliah selama satu tahun, usiaku kini hampir 24 tahun.

Apa jadinya kalo kami menjalin cinta? Apa yg akan dikatakan imron? Bagaimana nasib persahabatan kita nantinya? Maka rasa itu kukubur dalam2, walau ia baru muncul tunasnya. Sulit sekali rasanya untuk menahan rasa itu ketika aku terus bertemu dengannya, maka selepas aku menyelesailan skripsiku, aku berhenti mengajar Dara.

"Yah kenapa harus udahan sih kak?" "Kakak ga enak sama mas mu nyusahin terus."

"Tapi kan kakak ngajarin aku,aku juga nyusahin kakak jadi seimbang dong?"

"Hmm,kakak mau fokus sidang dulu, maaf yah?"

"Tapi kak..." Aku berlalu begitu saja, setitik air mata jatuh mengalir tak terlihat karena tersamarkan hujan deras sore itu.

Persiapan sidang dan revisi skripsi sedikit membuatku lupa akan Dara, tapi tidak sama sekali lupa, di saat sepi aku sering menyesali keputusanku meninggalkannya. Tapi ini semua untuk kebaikannya.

Waktu wisuda pun tiba, aku diminta untuk naik podium memberikan sedikit pidato sebagai mahasiswa terbaik, hari itu menyenangkan sekali. Orang tua ku datang dari Bandung, banyak keluarga mahasiswa lain pun datang. Termasuk keluarga Imron, dan pastinya Dara...

Aku dengan segera mengajak keluargaku keluar ruangan, hanya agar aku tidak bertemu dengan Dara lagi. Dan hari itu adalah hari terakhir aku menatapnya.

Beberapa bulan menganggur setelah jadi sarjana aku mendapatkan tawaran mengajar di SMA Negeri 1 Jakarta. Menggantikan guru senior yg harus izin rawat jalan penyakit struknya. Tentu saja aku terima permintaan dari kepala sekolah yg masih saudara jauhku itu. Selain dekat dengan kosanku, sekolah itu pun terhitung sangat bonafid.

Namun ada hal yg tak kuduga terjadi... 

Dara bersekolah ditempat itu dan sekarang ia sudah kelas XI. Masih cantik. Seingat aku mengenalnya saat pertama. Hanya kini ia lebih dewasa.

Apa yg harus aku lakukan?

Apa aku harus ttp menjaga jarak?

Aku berusaha seprofesional mungkin saat mengajar, walau tatapan Dara sering mengusik konsentrasiku. Aku berusaha tetap cair dan humoris sesuai dengan prinsip mengajar bahasa inggrisku yg fun and easy, walau aku menyimpan sejuta kata rindu setelah lama tak bersua.

Akhirnya jam istirahat pun tiba, aku dengan sesegera mungkin mengakhiri kelas dan segera keluar kelas agar aku dan Dara tak terlibat percakapan.

"Kakak ngapain disini?"tanyanya dengan senyum kecilnya yg indah. Tidak! Aku tidak boleh terpesona.

"Ngajar Bahasa Inggris."ujarku dingin sambil berlalu, sebelum Dara berkata lebih banyak lagi.

Sumpah! Sepanjang jalan ke ruang guru saat itu, aku tak henti-hentinya mengutuk perbuatanku saat itu. Kenapa aku bisa sedingin itu? Apa salah Dara? Ini salahku yg memiliki cinta yg tak semestinya ada. Bukan salah Dara...jadi aku tak berhak melukai hatinya. Arrrgh, bodoh sekali aku!

*      *      *

Kau tahu.. kurasa.. hadirmu.. antara ada dan tiada.. 
Setiap ku melihatmu ku terasa di hati.. kau punya sgalanya yang aku impikan. Kenanganku tak henti sajak tentang bayangmu.. Walau kutahu .. kau tak pernah anggap ku ada. 
Ku tak bisa menggapaimu, takkan pernah bisa.. walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi.. Kau hanya mimpi bagiku tak untuk jadi nyata dan sgala rasa buatmu harus padam dan berakhir..
-Antara Ada dan Tiada, Utopia-


Yaps, hari-hariku memang dipenuhi oleh Kak Izzy yang mengajar bahasa inggris begitu menyenangkan di kelasku.

Tapi sikap dinginnya membuatku bertanya-tanya ini mimpi atau nyata?

Kak Izzy memang hadir, tapi seperti tak ada. Dia tetap saja bersikap dingin kepadaku.
Tuhan, aku harus bagaimana?

Kalau cinta adalah fitrah, kenapa cinta ini terasa noda di matanya?

Nana dan Nifa sepertinya menyadari ada mendung di wajah sahabatnya ini.

"Dar, lo kenapa sih? Murung mulu akhir-akhir ini."tanya Nana agak waras.

"Iya, cerita aja Dar lo kenapa. Kita kan sahabat." Nifa pun bersikap lebih normal.

Astagaaa... untung kalau ada masalah, sahabatku ini menjadi manusia sungguhan. 

Kuputuskan untuk menceritakan segalanya pada mereka. Tentang Kak Izzy dan setiap ranting-ranting rasa.

"Hmm... gimana kalo lo kirim email atau surat kaleng ke doi? Tulis semua yang mau lo tulis. Bukannya ditolak setelah tau itu lebih baik daripada dicuekkin begini?"saran Nana disambut dengan Nifa yang membolak-balikkan tangannya di jidat Nana.

"Hmm... suhunya sama kayak pantat ayam. Na, lo harus ke rumah sakit. Gue rasa lo sakit." Pernyataan Nifa mendapat kecaman cukup keras dari Nana.

"Gue rasa bukan gue yang harus ke rumah sakit. Tapi lo, Nif. Karena sebentar lagi lo bakal babak belur gue cakar. Rrrrawwrr." Nana menirukan cakaran kucingnya. Pas dengan porsi wajahnya.

"Hmm... boleh juga saran kamu, Na. Oke aku coba ya."

Sepulang sekolah, aku pun mengurung diri di dalam kamar. Berpikir apa yang harus kutulis.

Esoknya aku pun menyerahkan surat kaleng pada Kak Izzy. Kutulis semua. Semuanya. Aku sudah tidak peduli akan apapun. Aku butuh jawaban, bukan sikap mengacuhkan.

'Assalamu'alaikum, Kak Izzy. Kakak pasti tahu kalau surat ini aku yang menulisnya.

Kak, aku cuma mau bertanya sama kakak.

Aku salah apa, Kak sama kakak?

Apa yang membuat kakak menjauh sampai seperti ini?

Apa karena sikapku yang mengganggu kakak?

Kalau memang karena itu, aku minta maaf, kak. Semoga kakak memaafkan Dara.

Bersama surat ini, Dara ingin melepas kejujuran pada kakak. Tentang kenapa Dara 
semenyebalkan ini.

Kakak tau kan, betapa sulitnya mengontrol perasaan? Atau memang Dara yang belum 
dewasa untuk mengendalikannya? Ah, peduli amat soal itu.
Jujur, setiap perhatian kakak selama ini membuat Dara menyadari bahwa ternyata Dara 
tidak hanya menganggap kakak sebagai kakak sendiri.

Dara.. menyayangi kakak sebagai seorang wanita kepada seorang laki-laki.

Maaf, kak kalau Dara lancang. Tapi Dara benar-benar sudah nggak bisa untuk menahan diri.

Kalau memang perasaan ini memberatkan kakak. Dara bersedia untuk mematikan hati dara sendiri. Kita mulai dari awal lagi. Cukup berteman seperti sedia kala.

Apakah kakak mengijinkan Dara untuk mencobanya?'

 *      *      *

Surat itu aku lipat dengan rapi dan aku masukkan kedalam kaleng sesuai saran teman-temanku. Sore itu ketika kelas usai dan sekolah mulai sepi aku bergegas ke kantor untuk menaruh surat kaleng ini ke lokernya. Setengah berlari aku bergegas.

Tiba-tiba..

'Bruuuk'. Aku menabrak seseorang.

"Maaf, saya terburu-buru."

Surat kalengku terjatuh. Orang tersebut meraihnya.

"Engga, Kakak yg minta maaf karena ga liat kamu."

"Kak Izzy?"

"Iya Dara, maafin kakak yah, kamu ngga papa?"

"Iya gapapa."

"Maafin Kakak."

"Iya gapapa kak, Dara ga terluka kok."

"Maksud kakak, maafin kakak yg tiba-tiba menjauh dari kamu dan bersikap dingin dengan kamu, sebenarnya..."

Aku menceritakan apa yg aku rasakan padanya, persoalan yg aku hadapi dan hal selanjutnya yg mungkin terjadi setelah ini.

"Kak, aku juga sebenarnya sayang sama kakak, bukan hanya sebagai seorang kakak, tapi sebagai seorang wanita pada pria."

"Tapi, kita gabisa Ra...Kamu tahu..."

"Ga ada yg nggak bisa dalam cinta, Kak."

Sore itu aku seakan menemukan secercah cahaya yg menelusup dalam hatiku yg gelap.

Esok hari aku berangkat ke kantor dengan rasa yg sangat gemerlapan. Aku tak sabar ingin bertemu dengan Dara. Namun hari itu aku tak melihatnya di tempat duduknya. Tak ada yg tahu mengenai ketidakhadirannya. Begitu berhari-hari, hingga tiba surat pernyataan dari kepala sekolah, mengenai izin tidak sekolah dalam jangka cukup panjang untuk Dara.

 *     *      *

Aku pergi. Ya, kini giliranku pergi dari sisi Kak Izzy. Mungkin ini yang terbaik untukku dan untuknya.

Masih teringat jelas kejadian saling menabrak kami. Saat kuungkap semua. Saat Kak Izzy bilang tak bisa. Saat aku meyakinkannya bahwa tak ada yang tak bisa dalam Cinta. Dan saat itu juga kusadari, ada secercah cahaya pada matanya. Ada harapan yang terbit di matanya. Ada kesempatan yang kuyakini bisa kuambil untuk terus bersama dengan Kak Izzy, tapi...

Di sinilah aku sekarang. Di dalam burung besi. Bersiap lepas landas ke negeri seberang. Berpindah raga, juga hati dan rasa.

Kutitipkan sebuah surat yang mungkin akan sampai sebulan kemudian. Surat yang kutulis karena sebuah rahasia yang terkuak dari Kak Imron sepulang sekolah setelah pertemuanku dengan Kak Izzy terakhir kali.

"Kak Imron, tau gak? Aku ketemu Kak Izzy lagi lho."

"Oh, ya? Dimana?"

"Dia jadi guru bahasa inggrisku."

"Wah, bisa kebetulan gitu ya.."

"Tapi, kak... Aku boleh gak cerita sebuah rahasia sama kakak?" Kak Imron mengangguk.
Aku pun menceritakan semuanya. Wajah Kak Imron merah padam. Kukira ia marah karena adiknya mencintai sahabatnya. Tapi aku salah. Semua lebih tragis dari yang kuduga.

Aku, adalah seorang Dara yang tertukar. Kakak kandungku yang sebenarnya adalah Kak Izzy.

Astaga! Selama ini aku selalu menertawakan tentang film yang menceritakan anak yang tertukar. Ternyata kisah ini sungguhan ada. Aku menangis tersedu. Kak Izzy, kenapa kisahnya harus sejahat ini?

Lalu yang mencengangkan adalah ternyata Kak Izzy pun belakangan tau tentang fakta ini. Ternyata alasan Kak Izzy bilang tak bisa adalah ini. Alasan binar di matanya adalah kenyataan cinta seorang kakak kepada adiknya.

'Assalamu'alaikum, Kak Izzy.

Dara benar-benar minta maaf pada kakak.

Kakak benar bahwa cinta kita memang salah dan terlarang.

Dara ijin pergi, Kak.

Doakan Dara agar Dara bisa segera mematikan rasa yang tak seharusnya ini. Sekali lagi, 
Dara minta maaf, Kak.

Dara sakit. Kakak pun pasti begitu. Semoga waktu segera mengobati luka yang terlanjur ada.'

Dizzy (Dini & Izzy)

10.10.2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar