Minggu, 01 November 2015

Ketukan Tengah Malam


Kemarin, Rani bercerita bahwa ada beberapa tempat kos yang berhantu. Tentu saja aku tidak percaya. Tempat kos kan banyak orang, masa iya ada setan? Oke, alasanku memang tidak kuat untuk menepis hal itu. Tapi, Hey! Masa di jaman modern dan kota besar seperti ini masih ada setannya? Kalau setan di tempat-tempat pelacuran sih aku masih percaya, lha ini setan dalam bentuk mengerikan? Agak gimanaa gitu ya.. Sebagai anak matematika yang segala sesuatunya perlu dibuktikan, wajar dong kalau aku nggak bisa menerima segala sesuatu mentah-mentah.

Malam ini aku yang penasaran pun membuka-buka situs dengan kata kunci ‘hantu kosan’. Kemudian banyak muncul berbagai cerita-cerita mistis. Aku menikmatinya sambil mengerjakan tugas yang malah lebih banyak ‘iklan’-nya.  Hingga tanpa sadar, waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kosan yang aku tinggali saat ini memang merupakan kosan yang kondusif untuk belajar karena dilarang berisik. Aku yang memang tak pernah bisa fokus dengan suara-suara lebih nyaman di tempat sepi. Biasalah, gaya belajar visual yang lebih banyak melihat dan membaca ketimbang mendengarkan.

Ketika mataku mulai mengantuk, tiba-tiba saja ada suara yang sangat menggangguku.

“Ting..Ting..Ting..Ting.”

Otakku yang mulai lelah ini berpikir.

Bakso cuanki kali yaa.

Lalu otakku kembali sehat.

Eh, masa sih dini hari gini ada bakso cuanki? Ah, tukang sekuteng paling.

Lalu aku teringat lagi bahwa tukang sekuteng suaranya tak begini.

“Ting..Ting..Ting..Ting.”

Suara itu berbunyi lagi. Semakin jelas. Suara tersebut lebih mirip paku yang digesek ke gerbang besi depan kosanku. Memang sih kamarku berada agak di depan, jadi wajar kalau suaranya terdengar jelas. Tapi suara ini terlalu jelas, seperti berada di depan kamar. Bulu kudukku mulai siaga berbaris. Aku paksakan untuk tidur saat itu juga. Syukurlah, tidak berapa lama suara itu hilang dan aku tertidur pulas.

                                                                           ***

Aku tidak terlalu menggubris kejadian malam itu. Namun, kejadian ini berlangsung sudah tiga kali dalam seminggu. Aku yang tidak tahan lagi, akhirnya bertanya kepada penjaga kosanku.

“Mbak Yem, kok kalau tiap malem aku sering denger suara ketukan di pintu pagar sih?”

Aku sudah was-was kalau penjaga kosanku ini akan berekspresi takut. Fyuuh, aku bernapas lega saat ia kemudian tersenyum menanggapi pertanyaanku.

“Itu suara orang ronda keliling, mukul tiang listrik buat bangunin orang-orang sholat tahajud.”

“Oalaaah…. Tapi bunyinya serem banget gitu ih.”

“Yee… Kalau serem mah, bunyi orang naik turun tangga tiap malem. Suka denger nggak?”

Aku berpikir sejenak. Hmm, iya juga ya. Aku pernah dua kali mendengarnya. Astagaaaa, kosanku berarti…… Hiyyyy.

“Iya, dua kali.”

“Makanya kalau tidur jangan malam-malam. Hehehe. Nanti ‘ditemenin’.”

Aku hanya pasang bibir manyun lalu pergi berangkat kuliah.
                                                                           ***
Empat bulan kemudian aku memutuskan pindah kosan dan lebih memilih tinggal di rumah. Selain karena jatah mata kuliah yang sedikit karena tingkat akhir, alasannya adalah untuk menghemat biaya hidup. Dasar anak matematika, kebiasaan deh perhitungan. Hehehe.

Suatu malam, ketika aku tengah asik mengerjakan skripsi. Tiba-tiba suara yang tak asing hadir lagi.

“Ting..Ting..Ting..Ting.”

Aku tidak terlalu terganggu karena tahu bahwa itu adalah suara tukang ronda yang membangunkan orang untuk sholat tahajud.

“Ting..Ting..Ting..Ting.”

Oke, aku pun memutuskan untuk rehat sejenak dan melaksanakan sholat di sepertiga malam karena sesaat sebelumnya aku sudah tidur.

Esok paginya ketika aku sarapan, aku bertanya pada ibuku.

“Mah, di sini kalau ronda suka bangunin orang sholat tahajud ya kayak di kosanku dulu?”

“Maksud kamu?”

“Iya, semalam ada yang kayak ngetuk gerbang kita pake paku gitu bunyinya ting-ting-ting.”

“Dek, di sini udah lama nggak diadain ronda. Baru mulai minggu depan.”

Aku terkejut. Kalau bukan tukang ronda, lalu siapa? Jangan-jangan…

“Tukang cuanki kali.”

Duh, mama merusak pikiran horrorku.

“Sekalian aja tukang sekuteng!”

“Bisa juga tuh.”

“Mamaaaaa….. ih”


Suara ketukan tengah malam pun tetap menjadi misteri. Biarlah, aku akan tetap berhusnudzon dan mengambil hikmahnya. Aku jadi bisa bangun untuk sholat di sepertiga malam. Hihihihihihi…. #ups

note: Based on true story dengan bumbu-bumbu pemanis. Btw, adakah yang mengalami hal serupa?

4 komentar:

  1. Acciieee... ternyata ada yg diam2 suka bangunin Dini. Wkakaka.




    #gaknyambung

    BalasHapus
  2. Ciee KakCi mentang-mentang ga ada yg bangunin :p

    BalasHapus
  3. Saya pernah ngalamin hal yg sama, dekat kost dulu, pada tengah malam ada bunyi tiang listrik dipukul, sehingga saya tidak bisa tidur dan tepat pada pukul 4.20 subuh, ada mahkluk dengan wajah rata masuk ke kost dan menyalakan kipas angin selama kurang lebih 20 menit.

    BalasHapus