Selasa, 03 November 2015

Mengetuk Pintunya

Jalanan Cibinong Sewaktu Malam

"Aku bilang juga apa? Jangan mengetuk pintunya lagi! Dia nggak akan pernah bersikap baik padamu."

Wanita yang disebut 'dia' hanya bisa menggigit bibir menahan tangis. Dia bersyukur deru mesin angkutan umum bisa membunuh hening malam ini.

"Kamu kan tahu, kamu juga pernah membaca buku 'Teman Imaji', bukan? Jika sebuah pintu telah kamu ketuk selama tiga kali dan tak juga ada jawaban, maka tinggalkan! Mungkin memang ruangnya telah ada penghuni atau tidak ingin kau isi. Sesederhana itu. Kamu bahkan telah mengetuknya berkali-kali. Sungguh bodoh! Kenapa kamu hanya percaya perasaanmu?"

Suara tersebut kemudian tertawa keras melanjutkan orasinya, sedang si wanita hanya bisa menatap kosong lampu-lampu rumah penduduk.

"Hahahaha. Lihat! Kamu tidak bisa menjawabnya. Kamu masih percaya dia akan menjadi lebih baik lagi? Mustahil! Sikapnya saja tidak memanusiakanmu, bagaimana kamu yakin akan bisa hidup dengannya?"

Tiba-tiba, sebuah suara lain menyahut tak kalah sengit.

"Hey, kamu diam saja! Kamu tidak mengerti! Aku meyakini bahwa seseorang memiliki kebaikan yang tersembunyi di dalam hati mereka."

Sebelum kedua suara tadi baku hantam, wanita itu telah sampai di tempatnya. Dia simpan sendiri percakapan dua suara tadi. Siapa yang akan didengarnya? Logika atau perasaannya? Wanita tersebut hanya memejamkan mata. Hari ini dia lelah. Lelah dengan ketidakmengertian dua elemen yang saling berkontradiksi: Otak dan Hati.


Note: Dibuat di dalam angkot udah lama sekali waktu perjalanan pulang ke rumah. Itung-itung setoran lagi tantang nulis 'suara ketukan' ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar