Minggu, 10 Januari 2016

Jawaban Absurd: Romantis yang Terkikis

Heran. Sungguh, gue sangat heran. Beberapa waktu belakangan gue sering dibilang absurd. Eh, gue kan orangnya ngikutin keadaan. Menyesuaikan diri gitu kayak bunglon, berarti lingkungan yang sekarang yang absurd. Wkwk.

Oke, kali ini gue mau cerita tentang kisah nyata. Kalian tau kan gombalan jaman dulu?


Wajahmu bagaikan rembulan.
Aw..aw..aw.. So sweet aneeet siih.

Respon itu berubah setelah teori tentang bulan datang menyerang. Teori bulan yang nggak rata, berlubang, dan banyak gunungnya disamain kayak wajah kalian? Istilahnya sih bopeng-bopeng gitu. Sama kayak muka yang nulis ini. ZzzZzz -_________- Jadi, nggak mau kan wajahnya disamain kayak bulan? Hoho.

Gini ceritanya. Waktu Sekolah Menengah Atas (SMA), gue mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).  Sebelum menjadi anggota resmi, kami diwajibkan untuk ikut yang namanya pelantikan. Pelantikan ini berupa kegiatan yang terdiri atas beberapa kelompok yang nantinya harus mengunjungi beberapa pos untuk menjawab pertanyaan seputar KIR.

Gue kebagian kelompok sama Boris, cowok yang super duper tinggi se-angkatan dan dinobatkan jadi ketua kelompok gue. Gue yang emang pada dasarnya pecicilan pun semangat banget sama kegiatan pelantikan ini. Nyanyian yel-yel kita pun super duper semangat, alias aneh. Ini nih yel-yel kelompok yang gue inget dikit-dikit (pake nada Dora the explorer):

Mau kemana kita? Pos satu. Mau kemana kita? Pos satu. Mau kemana kita? Poooos satuuu!
 Segitu doang yang gue hapal. Dan bisa ditebak, suara gue yang paling membahana. Hahahaha.

Seru-seru banget pertanyaan dari masing-masing pos. Banyak yang butuh mikir juga. Yaiyalah namanya juga KIR jadi harus miKIR. Wkwkwk. #Apasih Salah satu yang gue inget sih pertanyaan yang rumah dan rokok itulooh yang cuma berapa persen orang yang bisa ngerjainnya. Yee, gue mah nggak termasuk. Da abdi mah naon atuh. 

Ketika di pos lima, gue inget banget seorang senior cewek menitipkan kertas kepada si Boris untuk dikasih ke pos tujuh, pos terakhir. Sebenernya feeling gue udah nggak enak banget. Pasti bakal dikerjain deh. Tapi gue udah ngantuk, jadi yaa sebodo amat lah.

Singkat cerita, sampailah kita di pos tujuh. Seperti yang diperintahkan dari pos lima, surat tadi diserahkan kepada kakak-kakak di pos tujuh. Gue sih nyantai-nyantai aja soalnya di situ ada senior -sebut saja Bokir- yang udah akrab banget sama gue. Seringnya sih bercanda.

Nah, setelah surat titipan tadi diserahkan, para senior meminta si Boris membacakan. Daann.. firasat buruk gue akan hal ini benar adanya. #Halah Tau apa yang dibacakan Boris?

Oh.. Kak Bokir.. Wajah Kak Bokir seperti REMBULAN.
Bisa tebaklah yak apa respon senior-senior itu? Mereka pada nyerang si Bokir.

"Jadi, menurut lo wajah gue kayak bulan?" tanya Kak Bokir kepada Boris.

"Wah, kir. Parah, Kir. Wajah lo berlubang dong berarti?"

"Iya, Kir. Banyak gunungnya gitu."

Dua dialog terakhir adalah ulah senior lain yang memanas-manasi Kak Bokir supaya marah ke Boris. Dan iyes, Kak Bokir memarahi Boris. Gue sih udah menduga kalau pos terakhir biasanya pasti adegan marah-marah. Kemudian, di sela-sela aksi marah-marahnya, Kak Boris nanya:

"Temennya nggak ada yang belain nih?"

Gue waktu itu udah ngantuk parah. Gue pengen drama ini cepet-cepet selesai atau mungkin gue 'ketempelan' makhluk halus di antara bambu-bambu di belakang tempat para senior itu berdiri. Tiba-tiba dengan bodohnya, gue mengangkat tangan gue. Kak Bokir mengernyit sesaat dengan tampang masih ditekuk.

"Ya, kenapa Dini? Mau belain ketua kamu ini?"

"Iya, Kak." jawaban termantap dan paling tegas dari gue.

"Jadi? Lo mau belain ketua lo ini dengan alasan apa?" tanya salah satu senior cewek dengan sinis.

Kalian tau apa jawaban gueeeee?

Tidaaaak. Kalian salah kalau kalian mengira gue akan jawab: 'Kertas itu bukan dia yang nulis, Kak. Tapi titipan dari salah satu kakak di pos lima.' Sayangnya, jawaban itu terlalu normal dan entah kenapa nggak masuk di otak gue yang rada-rada inih.

Dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak ada yang salah dari pemikiran gue, gue pun menjawab,

"Ya bagus dong, Kak, kalo muka kakak dibilang kayak rembulan. Lubang dan gunung di bulan kan artinya mulut kakak, idung, mata, dan lain-lain. Daripada dibilang kayak sinar bulan, berarti muka kakak rata dong?" Gue memberi penekanan pada kata 'daripada dibilang kayak sinar bulan, berarti muka kakak rata dong?'.

Beberapa saat, temen-temen satu kelompok gue ternganga semua. Senior sempet diem juga. Mungkin temen-temen gue bermonolog dalam hati mereka masing-masing, "Din, lo menggali lubang lo sendiri."

And, YES! I got it! Semua senior di pos itu mengelilingi gue dan mengintimidasi perihal jawaban (gak) normal gue. Saking ngantuk dan frustasinya gue menjelaskan teori bulan versi gue, jiwa gue akhirnya tidak tahan diintimidasi seperti ini. Gue pun mengeluarkan air mata gue. Gue benci banget sama Kak Bokir!!! Dia nggak ngebelain gue sama sekali! Iya sih gue tau dia yang paling sedikit marahin gue di pos itu, tapi kan tetep aja harusnya dia membela adik imutnya inih. Fixed, Kak, kita nggak temen lagi!!

Suasana tegang pun perlahan mengendur. Gue masih sesenggukan. Para senior itu mengalihkan pertanyaan seputar KIR namun tidak ada yang bisa menjawab. Senior-senior itu hampir marah lagi. Gue, yang lagi-lagi bermuka tebel ini sambil mengeluarkan muka jutek yang kalo kata Inas adalah tampang pembunuh, mengacungkan tangan menjawab pertanyaan para senior menyebalkan itu dengan masih sesenggukan tapi lancar. Setelah itu, kami pun diperbolehkan meninggalkan pos tujuh.

Di perjalanan pulang kembali ke sekolah (sambil jalan kaki), aku bertanya dengan polosnya, "emang jawabanku tadi salah ya?"

"Nggak salah sih, Din. Cuma absurd parah." Semua temen-temen satu kelompok pun tertawa terbahak-bahak.

Tapi Boris menyemangati, "By the way, makasih ya, Din. Makasih udah ngebelain gue."

Lalu, aku pun memeluk kakak pendamping yang ikut menemani kelompok kami yaitu Kak Leni. Makasih ya, Kak. :")

Duh, bulan.. bulan.. gara-gara kamu nih! Jawabanku jadi absurd. Emang sih dulu kamu adalah ungkapan yang romantis, sayangnya rasa romantis itu kini sudah terkikis dan bahkan bikin aku jadi nangis! Wkwkwkwk.


Note: Sekali-sekali absurd dikit yak. Dikit? :p Yaa, buat hiburan kalian lah. Wkwkwkwk

1 komentar: