Selasa, 12 Januari 2016

Tamu Tak Diundang

Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY BLOG TOUR. Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Saya, Dini Riyani mendapatkan giliran untuk membuat episode kelima dalam serial story blog tour ini.
Dan inilah episode kelima. Syuuuuu~
Semua kata-kata ibu selanjutnya hanya seperti angin lalu di telinga Ana. Masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan. Ana benar-benar tidak bisa mendengar dengan jelas lagi apa kata-kata yang diucapkan ibu kemudian. Sebelum ibu menyadari keberadaannya, kaki Ana mundur perlahan.

Krieettt.

Sial! Lantai kayu yang lapuk di rumah tua ini tidak bisa berkompromi dengannya.

Jantung Ana berpacu dengan sangat cepat. Napasnya tertahan sesaat begitu mendengar langkah kaki ibu perlahan menuju keluar kamar.

Tap.. Tap.. Tap..

“Flowers in my hair.. Demons in my head.. Madness in my mind.. Darkness in my soul..” Nyanyian pengantar tidur dari ibunya semakin dekat dan semakin jelas.

Terang bulan dari jendela yang menjadi penerang satu-satunya di rumah tua itu menampakkan sebilah pisau tua yang diwarnai dengan noda kering darah berada di tangan kanan ibunya. Sedangkan tangan kiri ibunya memeluk boneka bermata satu yang ia yakini tadi dipanggil Bella oleh ibunya.

Ana menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetaran. Ia bersembunyi di samping kamar itu yang beruntungnya tidak mendapat terang cahaya bulan.

Kepala ibunya meneleng ke kanan dan ke kiri seperti orang yang tak sadarkan diri. Tunggu dulu. Ibunya menuju ke arahnya. Tiba-tiba saja..

Craaat!

Ujung pisau tua itu menghunus perut sosok yang mungil. Sosok itu pun tergeletak lemah menunggu nyawanya hilang di ujung tenggorokan.

Ciit.. Ci..iit.

Seekor tikus malang yang mengorbankan dirinya menjadi pahlawan bagi Ana malam itu. Hampir saja Ana berteriak barusan.

“Flowers in my hair.. Demons in my head.. Madness in my mind.. Darkness in my soul..” Nyanyian itu keluar dari mulut ibunya sekali lagi. Dengan nada yang sangat dalam sambil menatap puas seekor tikus yang perutnya tertembus ujung pisau tua.

Ana makin mengkerut di tempat persembunyiannya. Beruntung, ibunya kembali masuk ke kamar tadi sambil menyanyikan lagu yang sama dengan semakin keras.

Ini kesempatan Ana untuk segera keluar dari rumah tua itu.


Napas Ana masih tersengal. Matanya sulit terpejam mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Tubuhnya sedikit menggigil. Takut-takut ibunya akan masuk tiba-tiba ke dalam kamar dan menghunuskan pisau di tubuhnya seperti tikus yang malang tadi. Namun, rasa lelah mengalahkannya. 

Ia pun akhirnya terpejam.


Pagi itu Ana bangun dengan mata panda karena kurang tidur. Ia memaksakan dirinya mandi dan bersiap ke sekolah.

Saat menuju dapur untuk sarapan, jantungnya kembali berdebar tak karuan. Ia berharap semoga saja ibunya sedang keluar memanggil tukang jendela, tukang air, atau apapun sehingga ia tak harus bertemu ibunya.

Sambil melihat sekeliling, Ana menghela napas. Lega. Setidaknya ia bisa sarapan dengan tenang pagi ini.

“Pagi, Sayang.”

DEG. Suara itu. Tiba-tiba saja ibunya sudah berada di belakangnya. Ana sungguh tidak menyadari langkah ibunya.

Ana hanya membalas dengan senyum kecil. Takut untuk menjawab karena suaranya pasti akan bergetar.

Dengan cepat ia menghabiskan makanan dan segera berangkat ke sekolah.


Hari ini jadwal di sekolah benar-benar padat. Maklum saja, menjelang ujian akhir. Ditambah hari ini ada jadwal penilaian olahraga. Ana sungguh sangat tidak bersemangat. Bayangkan saja, tes lari TUJUH keliling sekolah yang luasnya setengah stadion sepak bola.

Di tengah-tengah lari yang sudah empat keliling, tiba-tiba saja napas Ana sesak tidak karuan. Pandangan matanya gelap dan akhirnya..

BRUK.

Ana tidak sadarkan diri.


Ana mengerjapkan matanya. Putih. Terang. Bukan. Bukan ruangan ini, tapi orang yang tengah ada di hadapannya saat ini.

“Bang.. ra..dit.”

“Eh?” Sosok yang dipanggil Bang Radit itu mengernyit keheranan.

Ana mengerjapkan matanya sekali lagi. Lelaki di hadapannya itu benar-benar mirip Raditya Dika, penulis favoritnya.

Setelah ia setengah sadar, barulah ia mengenali sosok lelaki yang membuatnya berpikir bahwa idolanya ada di alam nyata.

“Dit..? Aku dimana?” Ya, lelaki itu adalah ketua kelasnya. Radika Ditya. Nama yang hampir mirip dengan idolanya.

“Kamu di UKS, An. Tadi waktu lari, kamu pingsan. Inget?”

Ana hanya mengangguk lemah. Sirna sudah bayangan indah yang selalu ia harapkan.

“Kalo udah rada enakan, aku anterin pulang ya?”

“Eh.. Nggak usah, Dit.”

“Kenapa? Kamu kan naik sepeda, nanti kalo pingsan di jalan gimana?”

“Ng.. Itu.. Aku naik gojek aja nanti.”

“Jangan. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan. Ini udah tanggung jawabku sebagai ketua kelas.”

Ana terdiam sesaat.

“Jangan bingung, An. Soal sepedamu nanti bisa ditaroh di mobilku kok.”

Ana bukan bingung. Ana terdiam karena tadinya ia akan memilih naik taksi tapi uangnya hari ini tidak mungkin cukup.

“Terserah kamu aja deh.”

Mendadak, ia ingat sesuatu. Ibu tidak pernah membolehkan Ana mengajak siapapun ke rumahnya kecuali para tukang perbaikan rumah. Astaga! Bagaimana ini?


Ana harap-harap cemas ketika ia memasuki rumah. Syukurlah, ibu sedang tidak ada sepertinya.

“Oke, aku udah sampe di rumah dengan selamat. Jadi, sampai jumpa lagi besok. Bye!”
Baru saja Ana akan mendorong Ditya ke arah mobil. Seseorang memanggil namanya dengan dingin,

“Ana..”

“I.. Ibu.”

“Siapa dia?” Nada tidak suka ibu sangat jelas akan kehadiran Ditya.

Ditya tersenyum simpul.

“Halo, tante. Saya Ditya, teman Ana. Tadi Ana pingsan di sekolah, jadi saya antar pulang.”

Ibu tidak menggubris perkataan atau membalas ucapan salam Ditya.

“Kenapa kamu tidak menelepon ibu?” ucap Ibu sangat dingin kepada Ana.

“Hand..phone A..na ketinggalan, Bu.” Ana tergagap.

“Suruh temanmu segera pulang.” Lagi-lagi dengan nada yang sangat mencekam.

Ana hanya tersenyum datar pada Ditya.

Untunglah Ditya mengerti bahwa dia adalah tamu yang tidak diundang. Ditya pun pulang diiringi tatapan tajam sesosok bayangan hitam dari balik jendela pecah di rumah tua seberang.

To be continued…
———-
Ikuti kisah selanjutnya.
Episode 6 : Nurhikmah Taliasih (Coming soon)

Silakan kunjungi blog Tally Syifa untuk tahu kelanjutan ceritanya.

8 komentar:

  1. Akhirnyaaaaaaa.... muncul juga tokoh baru.
    Bagus din, ada slight comedy-nya. Ngga aneh kok ceritanya, yg bikin aneh karakter Raditnya kekerenan wakkakaka xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak terburu2 gitu gak sih ritmenya? Emangnya lagu? Lol.

      Babang Radiiit unyu aneet. XD #Plak

      Hapus
  2. Ckckckck... si Dini beneran ngeluarin si Radit. Syukurlah hny figuran, klo g bisa kacau nih cerita. Hahaha

    BalasHapus
  3. Kan masih ada Ditya :3 Tadinya mau dibikin Radit lg syuting lho~~

    BalasHapus
  4. Sumpah ini, ada kata raditya dika diselip-selipin gituu ahahaha #ngakak.

    Bagus din, berhasil menahan diri buat ngeluarin genderuwo dkk LOL

    Ceritanya okee, good jooobbb! #twothumbsup

    BalasHapus
  5. Babang Radit membutakan aku dari genderuwo XD LOL.

    Ketagihan Story Blog Tour nih. Hoho.

    Danke schön KakDhir B-)

    BalasHapus
  6. TS Ditya <3
    (Terlalu Sayang) Ditya <3
    Kyaaaaaaaa XD

    BalasHapus