Selasa, 29 Maret 2016

Permainan (Akan) Dimulai

Ini adalah Movie Script Blog Tour OWOP (One Week One Paper).
Saya, Dini Riyani mendapatkan giliran kedua dalam serial Movie Blog Tour ini.

Episode 1: Terkuncinya Para Pengunci - Annisa Fitrianda Putri

Selamat menikmati cerita~~~

Cerita sebelumnya:

Dru, Ar, Jan, dan Widhi terperangkap di dalam tabung aneh. Tabung yang melemahkan di saat kuat dan menguatkan di saat lemah. Salah satu orang yang menjadi pelaku kejadian tersebut adalah Al.


INT. RUANGAN ANEH DENGAN BEGITU BANYAK TABUNG.

(Lampu menyala lagi dan berhenti menyala pada tabung kesepuluh)

(Hanya empat tabung yang penghuninya sadar)

Al: Kukira cukup sampai kesepuluh untuk hari pertama.

Dru: Benar-benar brengsek kau, Al!

Al: It means I’m a brilliant. Thanks.

Dru: Cih! (melotot menahan amarah)

Al: Sepertinya kalian harus mengurusi teman kalian dulu. (melirik ke arah Widhi)

Ar: Widhi!

(Widhi kembali kuat karena tabung menguatkan di saat lemah.) 

Wid: I’m fine.. I’m fine. Kita ada dimana sekarang?

Al: Kamu ada di sarangku, sayang. (Tersenyum menjijikkan)

Wid: (mendongak)

Wid: Oh, ada si bedebah rupanya.

Jan: Tahan emosimu, Wid. Ingat tentang fungsi tabung ini.

Wid: Iya, Jan. Akan kusimpan keinginanku untuk membunuhnya.

Ar: Ya, Wid. Tunggu sampai saat penggagas menggerakkan pasukannya untuk mencari kita.

Al: Hahahaha. Penggagas katamu? O’ow. Tempat ini tidak bisa terdeteksi, kelinci-kelinci manisku.

Dru: Jangan lupa, hidung babi! Penggagas tidak sedungu dirimu.

Al: Ya.. Ya.. Ya.. teruslah berceloteh sampai aku menyaksikan mayatmu digigiti Snape, kadalku 
dengan tawa yang riang.

Wid: Teruslah bermimpi, botak!

Ar: Ya, kami yang akan segera menyaksikan kerangkamu di markas para pengunci!

Al: (menatap dengan tatapan meremehkan)

SFX. SUARA ALAT KOMUNIKASI BERGETAR

(Aldi berbicara dengan seseorang di seberang)

Al: Halo.

Dru, Ar, Jan, Wid: (Saling berpandangan)

Al: (Sambil memandang ke arah Dru)

Al: Ya, sudah terkumpul sepuluh, tapi baru kunyalakan sembilan. Haha.

Al: Apa? Besok dimulai? Oke. Aku sudah tidak sabar menyaksikan mereka menjadi makanan 
kadalku.

Al: Apa? Harus kuberitahu mereka?

Al: (Memutar kedua bola matanya, jengah.)

Al: Baiklah.

SFX. KLIK. BUNYI ALAT KOMUNIKASI DITUTUP.

Al: (Tersenyum puas)

Al: Kalian penasaran bukan aku bicara dengan siapa?


Dru: Siapa? Margareta? Yang menjawab pengakuan cintamu dengan tendangan besar di bokongmu?

Al: Silakan terus memujiku, Dru. Yah, anggap saja ini kata-kata terakhirmu.

Ar: Cepat katakan siapa dia!

Al: Mr.Locked.

Dru, Ar, Wid, Jan: (Saling berpandangan)

Al: Seseorang yang ingin membuat kalian merasakan bagaimana rasanya dikunci. (Menatap dengan tatapan mengejek)

Jan: (Menatap jijik)

Jan: Aku sekarang paham kenapa Margareta menendang bokongmu.

Al: Kalau saja Mr.Locked tidak menyuruhku untuk memberitahu kalian info ini, sudah kubunuh 
kalian.

Ar: Untungnya jiwamu selalu jiwa kacung. Teruskan, Botak!

Al: (Melengos)

Al: Kalian semua akan terkunci di dalam tabung ini. Mr.Locked akan memberikan beberapa misi. 
Jika salah satu misi kalian gagal, maka markas pengunci akan diledakkan satu persatu.

Jan: Bagaimana caranya kami menyelesaikan misi sedangkan kami terkunci di sini, bodoh?

Al: (Menghela napas)

Al: Kalian semua punya anak dan adik, bukan?

Ar: (Menatap ngeri)

Ar: Maksudmu?

Al: Mr.Locked akan mengirimkan chippertext di akun media sosial mereka. Jika mereka gagal mendekripsikan kode, maka.. BOOM! (Memeragakan dengan tangan)

Dru: Chippertext?

Al: Ya, kalau mereka peka bahwa itu adalah chippertext. (Memutar kedua bola matanya)

Dru: Tingkat kebodohanmu dan Mr.Locked-mu itu meningkat drastis. Bagaimana mungkin anak-anak seperti mereka bisa memecahkan chippertext itu? Mengerti bahwa itu adalah chippertext saja tidak!

Al: (Berjalan mondar-mandir sambil menaruh kedua jari di dagu seperti berpikir)

Al: Iya, ya.. Bagaimana bisa? (Masih sok berpikir)

Wid: Brengsek kau, Al! Uhuk.. Uhuk..

Wid: (Terbatuk hebat)

Jan: WIDHI!!!

Wid: (Terengah-engah)

Ar: Wid, please.. Jaga emosimu.

Dru: Kau benar-benar bedebah, Al!

Al: Atau aku memang benar-benar pintar? Hahaha.

Al: (Terbahak)

Al: Itulah asiknya permainan ini, Sayangku..

Al: Bagaimana anak-anak itu memecahkan kode? Sama sekali bukan urusanku. Untuk teknisnya mungkin nanti Mr.Locked akan berbaik hati menjelaskannya pada kalian sebagai hiburan sebelum kematian.

Al: Oke. Sepertinya aku harus pergi sementara kalian mengurusi teman kalian yang sepertinya akan menjemput ajalnya duluan.

Dru: (Menonjok sisi tabung)

Dru: Breng—

SFX. SUARA RUANGAN TERKUNCI. KLIK.

Ar: Bagaimana ini?

Dru: (Menatap kosong dengan wajah pias)

Jan: Kita harus bergantung dengan anak-anak itu? Oh, no…

Wid: Hey, masih ada penggagas. Ingat?

Ar, Dru, Jan: (Menoleh ke arah Widhi)

Ar, Dru, Jan: Cerdas!

Wid: Tolong diingat, IQ-ku 158. Terima kasih.

Dru: Tolong diingat juga anakmu, Joe memiliki IQ minus 158 derajat. (Terkekeh)

Wid: Hari ini aku sial sekali.

Ar: Tapi kupikir Joe masih lebih baik. Dia hanya pe-ma-las. Tidak seperti Cintya. Oh, Tuhan.. Kalian tahu apa yang sering kutemukan di akun media sosialnya?

Dru, Wid, Jan: (Menggeleng) Apa?

Ar: Semuanya sampah. Keluhan terhadap gebetannya. Bagaimana mungkin dia bisa membaca chippertext itu?

Dru, Wid, Jan: (Tertawa pelan)

Dru: Adikku, Rei, dia.. Sungguh sepertinya dia juga tidak bisa diharapkan. Dia menggunakan akun sosial medianya hanya untuk bermain game. Get rich dan kawan-kawannya.

Jan: Siapa tau otak gamernya bisa membaca chippertext itu?

Dru: Kuharap begitu. Tapi dia terlalu bodoh untuk anak usia delapanbelas tahun yang hanya menggunakan usianya bermain game dan bukannya bekerja membantu keuangan kami.

Jan: Hmm.. Emily terlalu pemalu. Dia menggunakan akun sosial medianya hanya untuk mem-fudul orang yang disukainya.

Ar: Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika penggagas membentuk tim berisikan adik dan anak-anak kita.

Dru: Yeah.. Satu-satunya yang bisa kita perbuat adalah banyak berdoa untuk keajaiban Tuhan.

Wid: Mungkin sudah saatnya kita pensiun menjadi pengunci.

Jan: Yap, Para pengunci yang terkunci.

Keesokan harinya

SFX. SUARA PINTU DIBUKA. KLIK.

INT. RUANGAN ANEH DENGAN BEGITU BANYAK TABUNG.

(Aldi melenggok bak model pria)

Al: Hallo, Para pengunci kesayanganku..

Dru: Hai, hidung babi botak yang kuharap secepatnya aku membunuhmu!

Al: (Ekspresi sok kaget) Wow wow wow, aku jadi ketakutan mendengarnya.

Wid: (Menonjok sisi tabung)

Jan: Wid, tahan!

Al: Oke. Hari ini permainan akan dimulai. Selamat menyaksikan set kunci kalian mendekrip chippertext hidup dan mati para pengunci. (Berbisik tajam)

Ar: Brengsek!

Al: Oh, ya! Hari ini aku akan menampilkan tamu pengunci yang kesepuluh

SFX. BIP, KLIK, SESUATU BERPUTAR, KLIK

(Lampu menyala di atas tabung kesepuluh)

Dru, Ar, Jan, Wid: RADIAN!

To be continued..

Ikuti kisah selanjutnya :) 

Episode 3: Detik-Detik Kematian Radian - Sa'id Al-Khudry 



9 komentar:

  1. Cie Diniiiiii, hampir 1000 kata!!! Superb!!
    Dan kerasa alus alurnya dari part 1 ke part 2 ini :))

    Sumpah jadi penasaran gimana bocah-bocah itu menjalani misinya. Pasti kocak! xDD
    Gak sabar pengin nulis, tapi juga kayaknya bakalan susah banget ngelanjutin ini :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eyke kira situ bakal mencak2 gegara aye mengacaukan cerita di awal :p

      Hapus
  2. Egelaaa.. sakit perut ane. Wkwk

    BalasHapus
  3. Oh My Allah... udah 2 episode dan ini keren banget. Aku bisa apa? *melipir*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa apa? Kamu bisa mulai memikirkan siapa yang akan kamu tulis namanya di kartu 'undangan'. #Eh

      Hapus
  4. Busetttt... serasa berasa di dalam tabung. Hahaha.

    BalasHapus
  5. Hauuh,di sinilah 'lahir'nya banyak tokoh yang bikin pusing....

    baiklah, waktunya giliranku buat ngebunuh-bunuhin wakakakak

    BalasHapus