Kamis, 06 Oktober 2016

[Fiksi] SBT (Story Blog Tour) SANG PENARI: TARIAN

PERINGATAN

Cerita ini gelap. Kalau kamu tidak serius untuk menemukan terang, jangan dibaca. Gelap ini hanya berakhir ketika cerita juga berakhir. Hati-hati, sebab kisah ini bisa masuk lewat mimpi.


SANG PENARI: TARIAN 

“Kamu yakin akan hal ini?” Tio menatap Agni ragu.

“Yap! Ini kan salah satu bentuk protes terselubung!” Agni, Sang ketua pun bersungut.

“Sebenarnya siapa yang akan kamu serang di Festival Kebudayaan nanti?” Kali ini Tio bertanya lebih lembut.

“Orang itu.” Agni tersenyum miring.

***

“Sudah siap? Ayo segera latihan karena festival tinggal satu hari lagi.” Agni menatap ketiga rekannya tajam.

“Ag-Agni... Apakah kita benar-benar akan melakukannya?” Seorang gadis dengan rambut dikepang belakang bertanya takut-takut.

“Naara Dimitra. Kalau kamu memang mau menyerah harusnya kamu menyerah dari awal!” Tegas Agni.

“Benar, Ra. Kita kan sudah memilih dan terpilih, jadi kita harus bertanggung jawab sampai akhir.” Urvi, seorang gadis berambut keriting memperkuat jawaban Agni.

“Oke, ayo kita berlatih!” Agni menepuk tangannya agar semuanya bersiap.

Auri, anggota terakhir mereka hanya menatap Naara prihatin. Ternyata dia juga takut, sama sepertiku.

***

Festival pun tiba. Semua menampilkan kebudayaan dari berbagai macam daerah. Hingga di puncak acara,

“Oke. Ini persembahan terakhir dari kami. Sebuah tarian yang berjudul...”

Suara pembawa acara langsung terputus oleh lampu yang tiba-tiba dimatikan. Perlahan, gamelan pun dimainkan lembut.

Keempat penari memasuki panggung yang datar. Mengalun, mendayu seolah membawa semua penonton ke dalam buaian mimpi.

Terimalah protes kami, wahai pemimpin keji. Agni berbisik dalam hati.

Jemari keempat penari terayun ke kanan dan ke kiri. Selendang berwarna hijau tua sama-sama terangkat. Keempatnya membentuk lingkaran. Pinggul mereka berlenggak-lenggok dalam posisi mendhak. Lalu, berputar perlahan. Empat ujung selendang dibuang pelan.

Semua semakin terhanyut. Senyuman para penari semakin membius.

Ada yang tidak beres. Naara gemetar.

Ini tidak wajar. Kali ini suara hati Auri yang ikut bersuara.

Di barisan penonton, keempat penari lain tiba-tiba saja muncul. Berselang-seling mengitari seseorang. Mengikuti gerakan para penari di atas panggung. Muka keempatnya sangat pucat.
Naara dan Auri berkeringat dingin. Keduanya menatap ke arah Agni dan Urvi yang seolah biasa saja menatap keempat penari ‘tambahan’.

Volume pukulan gamelan pun semakin kencang.

Badanku bergerak sendiri! Ada apa ini? Naara dan Auri menjerit dalam hati.

“Agni!” Bukan suara yang terdengar, hanya gerakan mulut yang terbuka. Tenggorokan mereka tercekat. Agni hanya diam saja. Tatapan matanya sayu.

Itu bukan Agni! Naara dan Auri menatap satu sama lain.

Bau minyak yang pekat mulai memasuki rongga hidung. Kata orang, bau minyak ini menandakan ‘ada yang datang’.

Para penari ‘tambahan’ memasuki gerakan akhir. Sekarang mereka sudah di posisi duduk, mengayunkan tangan dengan gemulai. Mata para penari ‘tambahan’ itu semakin sayu di sekeliling seseorang.

Gerakan terakhir. Keempat penari dan penari ‘tambahan’ bangun dari duduk. Melangkahkan kaki, mengetuk tumit pelan. Masih dalam posisi melingkar. Sebentar lagi berakhir.

Tiba-tiba saja, dari bawah selendang para penari ‘tambahan’ muncullah sebilah keris. Menatap sayu seseorang di tengah mereka. Menggeleng ke kanan dan ke kiri perlahan. Lalu,

BLESSH.

Keempat keris ditusukkan ke perut orang tersebut. Darah mengalir tapi tidak ada yang berteriak.

Ada apa ini? Naara dan Auri bertanya-tanya.

Lagu gamelan menjelang habis. Para penari ‘tambahan’ pun berjalan pelan ke belakang barisan para penonton. Tersenyum sayu.

BRUUUUK.

Keempat penari di atas panggung tak sadarkan diri.

***

Naara melihat sekelilingnya terang. Ini dimana?

Tiba-tiba saja dia melihat banyak orang di kamar yang serba putih.

“Naara!” Oh, itu Ibu.

Naara mencoba bangun walaupun kepalanya sedikit pusing. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi. Sedetik kemudian, ia membeku. Kejadian semalam!

“Ibu, dimana teman-temanku?” Dengan tenaga yang belum pulih, Naara memastikan keadaan teman-temannya.

“Mereka baik-baik saja. Ibu cemas. Untunglah kamu juga tidak kenapa-kenapa. Hanya saja....”

“Ada apa, Bu?”

“Pak Rama... sudah tiada.”

DEG. Jantung Naara seolah berhenti.

Tarian itu.... Tarian menyeramkan itu... Bau minyak itu...



Namanya... SERIMPI!




Kisah ini akan dilanjutkan oleh Doddy. Selamat bercerita, Dod!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar