Selasa, 17 Januari 2017

Cinta dan Benci

Yang belum baca kisah sebelumnya, klik di sini

This story is written by Ara and Jiva~~

Photo by: Dini Riyani

Itu dia. Cintaku dan si bajingan. Aku tidak mengerti mengapa Ara bisa sampai begitu mencintainya. Padahal dari sudut pandang apapun, aku jauh di atasnya. Dari segi postur, jelas aku lebih tinggi. Kecerdasan, ah dia biasa-biasa saja. Aku lulusan kampus negeri, dia swasta. Bisa apa kampus swasta. Cuma mencetak manusia robot yang siap bekerja di tangan para kapitalis.

Kebetulan aku sekelompok dengannya di kelas skoring Speaking. Dalam urusan skoring ia selalu kalah denganku. Aku mendapat 5.5 sedangkan dia Cuma 5. Ada satu momen terlucu, di mana dia pernah salah memberi jawaban di sesi ketiga skoring IELTS. Mr.Miftah bertanya tentang “apa yang biasa orang-orang beli jika berwisata ke Indonesia.” Ada kata buy di akhir ucapaan Mr.Miftah. Konyolnya perkataan tersebut disalahpahami oleh Najib. Ia malah menangkap kata buy (membeli) dengan by (oleh). Alhasil jawabannya pun terdengar konyol. Ia menjawab:


“bla bla bla by aeroplane, by car.” dan by lainnya. Saat itu juga aku tertawa, kelepasan. Mr.Miftah pun begitu. Kemudian di sesi penilaian, Mr.Miftah mengoreksi jawabannya. Hahaha, sepertinya kupingnya harus di-loundry biar bersih. Adapun soal tampang, hmm relatif sih. Tapi pokoknya, selama masih waras, pasti perempuan manapun lebih memilihku dibandingnya.

Kuamati mereka berdua lekat-lekat. Mata serigalaku siap memantau, menggeliat, kalau-kalau dia berani berbuat macam-macam kepada Cinta-ku. Tinju ini sudah siap terdampar, mendarat di pipinya.

Eh, Gita? sedang apa dia di sini. Kenapa pandangannya tak pernah lepas dari Ara dan Najib? eh, eh, kok dia malah menangis. Kulirik Ara, mereka telah menaiki gerbong. Aku bingung, haruskah aku mendekati Gita? Tapi jika begitu, berarti aku telah meninggalkan kesempatan emas ini, yang tak mungkin datang dua kali. Maaf Gita, aku harus tetap mengejar mereka.

Aku duduk di gerbong 8; 12D, selesih beberapa nomor saja dengan bangku mereka di mana aku bisa memantau segala aktivitas yang mereka lakukan. Dan sepertinya aku harus berterima kasih kepada Bro Irfan yang telah membooking tiket ini. Dia jugalah yang memberitahuku tentang Najib yang mau menemani Ara pulang ke kampung halamannya, Bogor. Terima kasih Bro, nanti aku traktir Sop buah depan Elfast.

Kupandangi Ara. Oh, cerianya dia, Cinta-ku. Tahukah kamu kalau aku mencintaimu melebihi cintamu padanya? Aku menyukai keceriaanmu; jilbab merah muda gelap yang sering kamu pakai; aku juga suka kacamatamu; gigi gingsulmu; atau bros mawar mewah yang kamu bubuhkan di pundak kirimu; ah, pokoknya aku suka semuanya kamu, Araku. Tapi pandanganmu selalu tertuju padanya, si brengsek itu. Ara, kamu salah orang. Harusnya tatapanmu adalah milikku. Senyum itu hakku, bukan dia.

Tidakkah kamu merasakan kalau dia tidak menyukaimu? Kamu cuma dipermainkan. Iya, cuma dipermainkan! Bukan hanya kamu, dia juga mendekati Eki. Lihat saja instagramnya, mereka terlihat akrab sekali berbalas-balas komen. Itu baru di ruang publik. Aku tak bisa membayangkan bagaimana liarnya pembicaraan mereka di Line, yang kita tidak dapat mengetahuinya.

Aku pernah sekali memergoki Eki yang sedang dibonceng Najib ke arah jalan menuju Test English Course. Karena kebetulan lanjunya begitu lambat -dan kukira ini pasti disengaja oleh Najib- jadi aku bisa membuntuti mereka. Motor butut itu melaju terus ke arah Jombang. Entah mau kemana mereka berdua. Langsung saja aku menghubungi Ara dan menceritakan kejadian yang barusan kulihat. Sayang, kamu tak mau percaya. Kamu malah menjawab “Najib itu sedang berada di kampung halamannya. Jadi gak mungkin ada dua Najib. Pasti kamu salah lihat. Dan...urusi saja urusanmu sendiri! jangan ganggu aku.”

**

Najib berdiri dari bangkunya, berjalan menuju sudut gerbong. Aku pikir dia ingin membuang air kecil di toilet yang terletak di  ujung gerbong. Ternyata benar, dan klik inilah kesempatan bagiku untuk menghajarnya karena telah berani mempermainkan perasaan wanita, terlebih dia adalah wanita yang kucintai. Zaman Rasul saja umat Muslim pernah berperang melawan orang kafir hanya karena tindakan pelecehan yang mereka lakukan terhadap salah seorang muslimah. Jadi, sebagai seorang lulusan Hukum Islam UIN, aku memiliki beban tersendiri untuk sebisa mungkin meneladani Rasul “membela yang tertindas.”

Kuberanikan diri menghampirinya. Kuketok pintu berbahan stainless steel itu, kasar dan berkali-kali. Najib membukanya, dan BUK...Kudorong badannya sampai terbentur westafel yang masih mengucurkan air. Aku pukuli dia berkali-kali, kepala dan perutnya. Dia melawan dan memukulku balik. Akhirnya baku hantam tak terhindarkan. Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang perempuan

“Tolong ! Ada yang berkelahi.” 

Beberapa detik kemudian ramailah suasana. Ditariknya diriku oleh sejumlah bapak-bapak, keluar dari toilet. Dua orang petugas kereta terpogoh-pogoh mendekatiku, lalu menyeretku dengan kasar menjauhi Najib. Dari kerumunan itu muncullah Bidadari-ku, wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan, terkejut.

“Ara! bajingan ini mempermainkanmu.” Tanganku menunjuk Najib, ucapanku agak terpatah-patah, masih dalam dekapan dua orang petugas “Ara tolong percaya sama aku!”

Najib diam, menunduk. Ara menangis.

“ZAKI? Bodoh kamu! Apa maumu?"

“Ara, aku peduli sama kamu.”

“Sudah kubilang urusin saja urusanmu sendiri!!”

Ara memegangi kepala Najib dengan erat. Darah yang mengucur dielapnya dengan kain jilbab hijau tuanya. Air matanya menetes, turun ke pipi najib. Najib tersenyum.

“Sudah Ara, maafkan dia.” ucapnya lirih, tapi aku masih mendengarnya.

Dengan masih menyisakan luka, aku diturunkan di stasiun selanjutnya. Aku sempoyongan dan mau pingsan. Sulit sekali untuk berdiri tegak, seimbang. Ternyata Najib sempat memukul rahang, hulu hati dan alat vitalku. Mataku pelan-pelan meredup. Dalam detik-detik terakhir kulihat ada seseorang mendekatiku, seorang perempuan yang sepertinya aku kenal tapi mataku terlebih dahulu terpejam, lalu gelap menyelimuti.

***

          “Kak Zaki, Kak!” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Bagaimana mungkin pria yang aku sayang ini bisa tergeletak dan terluka parah di hadapanku. Aku pun meminta tolong orang sekitar untuk membantuku membawa Kak Zaki ke ruang medis stasiun.

              Satu jam setelahnya, Kak Zaki pun tersadar.

             “Kakak udah siuman?” Aku tersenyum lega.

          “Dila, ngapain kamu di sini?” DEG. Aku yang sibuk mengkhawatirkan sosok yang kucintai ini lupa untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan ini. Alhasil, aku hanya bisa mematung.

            “Dil? Jangan bilang kamu lagi jalan-jalan gak jelas ya?”

       “Hehehe. Kakak tau aja.” Fyuuh. Untunglah aku terbantu dengan pertanyaan sekaligus jawaban dari Kak Zaki.

          “Pasti kamu tau ya, Dil? Soal lukaku ini? Soal Ara?” Eh? Baru kali ini Kak Zaki membuka dirinya.

             “Emang kenapa sama Kak Ara?” Aku pura-pura tidak tahu.

             “Aku sayang banget sama dia, Dil. Tapi dia lebih milih Najib yang brengsek itu. Kamu kan deket sama Ara, Dil. Tolong kasih tau dia, Dil kalau Najib itu jahat.” Aku hanya mampu menggigit bibirku. Menahan cemburu dan gugup yang menjadi satu.

           “Love is not blind, Kak. Love is blinding. Dila gak bisa apa-apa. Yang punya hati kan Kak Ara.” Iya, sama kayak hati Dila, Kak, yang tetap aja milih kakak walau pada kenyataannya kakak malah membuat pengakuan di depan Dila bahwa kakak sayang sama orang lain.

         Kak Zaki hanya menghela nafas. Kupikir, ia berpikiran sama sepertiku. Tahu kenyataan, akan tetapi masih menyimpan berbagai harapan dan berharap segala kemungkinan.

          “Ah! Hampir lupa! Tadi waktu aku ngikutin Ara sama Najib, aku melihat Gita menangis di sana. Kira-kira kenapa ya?” Sebenarnya aku juga tahu, Kak. Aku kan mengikutimu. Aku juga menaiki kereta yang sama sepertimu. Ah, jadi ingat! Ini semua berkat Om Irfan. Om Irfan, terima kasih atas tiket darimu. Ya, walaupun aku harus mentraktirmu TanSu selama satu minggu!

           “Eh? Kok bisa, Kak?” Aku berusaha menerka-nerka.

          “NAJIB!” Kami berdua menjawab berbarengan. Kemudian, tertawa bersama. Alamak, indah nian caramu tertawa, wak. Eh, Kak.

          “Setahuku Gita sukanya sama Najib.” Aku berusaha memberi info yang kurang valid.

          “Tapi setahuku juga, Ardan udah nembak Gita.”

          “Hmm.”

          “Lucu ya? Kisah di Elfast jadi begini. Kalau kamu, Dil? Sama siapa?” Sama kakak lah! Bodoh kali wak!

       “Nggak ada, Kak. Dila mah netral. Gua mah gitu mah orangnya mah.” Kak Zaki kembali tertawa. Kakak, aku yang bisa membuatmu tertawa ini kurang apa? Kenapa kakak malah lebih memilih Kak Ara?

          “Jangan-jangan… suka Najib juga ya? Apa sih bagusnya itu orang?”

        “Coba kakak tanya ke Kak Ara. Tapi waktu itu pernah sih Kak Ara di-truth.” Mata Kak Zaki langsung melebar ke arahku. Mendelik penasaran. Mata yang setajam elang, yang mampu menembus ruang hatiku.

          “Coba ceritain.”
      
      “Pas Kak Ara ditanya lebih milih siapa antara Kakak sama Najib, Kak Ara jawab Najib. Soalnya Kak Ara gak suka cowok alay dan berprinsip poligami. Kakak sih bercandanya gitu.”

          “Hahaha. Aku alay dimana deh, Dil? Lagian emang salah ya kalau mau berpoligami?”

         “Itu kalau ngetik pake huruf x sama tuch, nich, sich. Hehe" Aku berhenti sejenak, tersenyum lalu berkata "Gak tahu, Kak. Dila masih kecil weee.” Kak Zaki tertawa lagi! Ah, andai waktu bisa kubekukan. Ingin kubekukan kebersamaanku bersamamu, Kak.

         “Dil, kamu kelihatannya pendiem lho di kelas. Kok jadi begini?” Kakak mau tahu alasannya? Bodoh! Aku mau menjadi se-ceria Kak Ara! Supaya kakak bisa melihat kehadiranku walau cuma sebentar.

          “Masa sih, Kak?”

          “Iya. Serius!”

          “Hehe.”

          “Jadi, Dil? Sama siapa?” Kak Zaki masih saja penasaran.

          “Cinta yang serius gak perlu di-publish, Kak.” kataku sambil menjulurkan lidah.

        Iya, begini saja sudah cukup, Kak. Biar kamu peka dengan sendirinya. Kalau kamu nggak peka juga, apalah dayaku?


       Hmmm, Kak Zaki, apakah prinsip poligamimu masih berlaku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar