Minggu, 19 Februari 2017

Serendipiti


"Mbak Ara gimana kuliah di sana? Enak nggak?" Seorang wanita berjilbab biru muda menyapaku.

"Alhamdulillah selalu ada hal menarik." Aku tersenyum.

"Jadi, Mbak sementara mau research di sini? Makanya ditugaskan juga buat studi banding sama kehidupan pelajar Indonesia yang kuliah di sini?" Kali ini, Nurma si gadis berjilbab merah jambu yang bertanya.

"Iya, sambil menyelam minum air. Hehe." sahutku pada mereka.

"Assalamu'alaikum." Tiba-tiba saja seorang lelaki datang bergabung dalam perkumpulan kami.
DEG. Satu tetes air mataku jatuh begitu saja tanpa bisa kucegah. Segera kuhapus agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Wa'alaikumussalam. Akh, kemana aja? Kok baru dateng? Kita kedatangan tamu jauh nih dari Aussie." jawab Mas Rais pada lelaki itu.

Tiba-tiba saja mata kami bertemu. Masih sama seperti tujuh tahun yang lalu, kala mata itu membawaku masuk dalam putaran yang dalam. Terhisap dalam kekaguman.

Dia tersenyum. Lebih tepatnya terkekeh seperti biasa. Aku yang malah terpaku.

"Mbak Ara? Jadi? Di sini berapa lama?" tanya Risa, yang berjilbab biru tadi menyadarkanku.

"Kemungkinan data yang kubutuhkan baru bisa selesai satu bulan lagi. Doakan saja supaya lancar ya." jawabku sebiasa mungkin. Padahal tubuhku rasanya luluh lantak saat itu juga.

Dari jauh-jauh hari, aku sudah mempersiapkan ini semua. Berusaha jika memang takdir pertemuan itu terjadi, aku akan biasa saja. Nyatanya, semua masih kacau seperti dulu. Duh, dari semua tempat yang ada kenapa harus Nagoya? Dari semua orang, kenapa harus kamu?

Pertemuan bersama para pelajar yang berada di Nagoya pun usai sudah. Aku pun hendak pulang ke penginapan. Sampai seseorang memanggilku,

"Ara.." Mbak Melati, istri Mas Rais menghampiriku.

"Ya, Mbak? Ada apa ya?"tanyaku.

"Begini, Ra. Hmm.. Aku terlalu cepat nggak ya?"

"Ada apa, Mbak?" Aku penasaran.

"Oh! Kamu ketemu orangnya langsung aja deh yak. Aku temenin."

"Siapa, Mbak?"

"Aku juga ragu sih kamu kenal apa enggak. Ikut aku dulu deh ya?"

Aku pun berjalan mengikuti Mbak Melati.

Heiwa Park dengan sakura yang bermekaran. Mengingatkanku akan sesuatu. Dari jarak lima meter, aku bisa melihat seorang lelaki sedang bercakap-cakap dengan Mas Rais.

"Mbak, kenapa sih?" Aku menarik pelan baju Mbak Melati, sedikit takut.

"Emm... Kamu sudah ada yang mengkhitbah?" Pertanyaan macam apa lagi ini?

Aku berpikir sebentar, kemudian,
"Ng.. Belum, Mbak."

"Alhamdulillah. Ayo." Aku pun sudah berada dekat dengan Mas Rais dan lelaki itu.

Begitu ia berbalik, aku menggenggam lengan Mbak Melati erat. Takut tiba-tiba jatuh oleh mata yang menenggelamkan itu.

"Langsung aja, Akh. Alhamdulillah kata Ara, dia belum ada yang mengkhitbah." Mbak Melati tersenyum ceria pada lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum.

"Kok cuma senyum aja? Mau ane yang nyampein?" Kali ini giliran Mas Rais angkat bicara.

Lelaki itu terkekeh geli.
"Bukan. Ingat foto seseorang tentang impiannya ingin dilamar di bawah pohon sakura."

Aku melotot ke arahnya. Sejak kapan dia...?

"Aku nggak ngerti semua ini." Aku pun kebingungan.

"Jadi, Akhi ini ingin melamar Ara. Ara bagaimana?" Mas Rais kembali bicara.

"Kalau begitu, bilangnya sama Ayah dan Ibu Ara dulu."

"Sudah. Hari ini aku meminta ibuku langsung ke rumahmu."

Aku terkejut.
"Eh? Sejak kapan?"

"Sejak aku melihat kamu di ruang pertemuan tadi."

"Kok?"

"Serendipiti buatmu, Diara."

Dia pun kembali tersenyum, sedang aku hanya bisa menitikkan air mata.

Ya, serendipiti itu semacam menemukanmu di sini. Tidak hanya menemukanmu, tapi juga menemukan calon muara rusukku. Aku mencubit pipiku. Sakit. Itu artinya dongeng ini masih ada. Dongeng antara Diara dan Langitnya. 


Terima kasih, Langit telah menghadiahiku dengan makna seindah serendipiti. Sebahagia itu ternyata menemukanmu! 

Malam Narasi OWOP
-Ara-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar