Kamis, 02 Maret 2017

SBT OWOP: Rapat Dadakan dan Rencana Baru

Ini adalah SBT OWOP. Apa itu SBT? Story Blogtour!
Dan kali ini temanya adalah Friendship! Yahuuuwww~~

Oiyaaa baca dulu yaa chapter-chapter sebelumnyaaa~~ Wkwkk

Chapter 1: Misteri Dana Operasional
Chapter 2: Pertemuan
Chapter 3: Perbincangan di Kafe
Chapter 4: Misi Wanda
Chapter 5: Ide Fiki
Chapter 6: Kedatangan Pria Misterius
Chapter 7: Terkuak
Chapter 8: Rapat Dadakan dan Rencana Baru

Here we goooo~~~~~~

“Dimas?” Wanda tercekat. Lebih tercekat lagi ketika ia tahu siapa yang berdiri di depan Dimas. “Damar?” 

Oh, god. Dimas, Darma. Dimas, Darma. Setelah terdiam cukup lama, Wanda baru menyadari sesuatu. Jangan-jangan.. [Cerita Sebelumnya] 

Wanda segera membekap mulutnya sendiri. Ia mengambil langkah pasti langsung berjongkok di dekat sebuah pot tanaman yang cukup untuk menyembunyikan dirinya dari penglihatan mereka berdua.

Ada apa ini? Darma? Tapi…tapi kenapa?

Seketika episode demi episode yang telah mereka lalui berkelebat begitu saja. Kenapa ia tidak curiga sejak awal pertemuan mereka? Darma yang tiba-tiba saja ikut bergabung. Lalu, kebetulan-kebetulan rapi lainnya yang berkaitan dengan Darma yang selalu bisa mendapatkan momen seolah menangkap basah Dimas beserta kepala sekolah dan wakilnya. Itu semua ternyata disengaja! Sayangnya, handphone Wanda tertinggal di dalam tasnya yang masih berada dalam kafe itu. Arrrghh! Ia harus segera berpikir! Tiba-tiba saja,

“Hey, kok lama banget sih?” tanya Hadyan.

“Kita khawatir nih.”ucap Anton menimpali.

Wanda buru-buru menarik tangan mereka berdua untuk ikut bersembunyi bersamanya.

“Ssst!” bisik Wanda masih dengan memegangi tangan keduanya.

“Ada apa sih?” tanya Hadyan sewot sembari menarik paksa tangan Wanda yang masih memegang tangan Anton.

Wanda seolah tidak peduli lalu mengintip ke tempat yang sama. Darma dan Dimas sudah pergi. Wanda menghembuskan napas lega.

***

“Gilak! Minta ditumbalin ke penunggu Gunung Salak tuh orang!” seru Fiki sambil menggebrak lantai rumah Wanda yang disusul seringai kesakitan.

“Minta ditetesin nuklir biar meledak kali yak?”usul Bayu tak mau kalah.

“Jangan, lo bedah aja dalam keadaan sadar.”timpal Hadyan yang mendapatkan tatapan ngeri seluruh teman-temannya kini. Tentu saja minus Darma.

“Udah-udah. Sebelumnya, gue tegasin lagi nih. Di sini nggak boleh ada pengkhianat ya! Apalagi elo! Gue tetep belom bisa percaya sama lo!”ujar Wanda sadis menatap tajam pada Anton.

“Selow, Wanda.”jawab Anton sambil tersenyum semanis mungkin. Dalam hatinya ia berkata bahwa ia tak mungkin tega mengkhianati wanita pujaannya.

“Oh, iya! Sebelum gue lupa, ada yang mau gue tanya sama lo, Had.” Sekarang semua mata kembali mengarah pada Hadyan.

“Apa?”tanya Hadyan tak mengerti.

“Ada urusan apa lo waktu itu sama Dimas? Berdua? Di ruang osis?” Tatapan Wanda menyelidik penuh ke arah Hadyan.

“OMG. Had, gue gak nyangka… Lo… Ternyata… aw.” Fiki mempraktekkan gerakan gemulai seperti seorang perempuan.

“Gak waras lo, Fik! Gue masih normal tauk!” Hadyan bersungut sebal.

“Fiki… bukan waktunya bercanda. Tuan Hadyan, kami menunggu penjelasan anda.” Wanda kembali memegang kendali. Hadyan menghela napas.

“Oke. Temen-temen sorry banget gue lupa bilang hal ini. Tadinya gue pikir ini adalah kesempatan bagus banget. Tiba-tiba aja Dimas manggil gue secara pribadi buat ngomongin privacy-nya.”

Hadyan memberi jeda.

“Apaan woy?” tanya Anton tak sabaran.

“Dia minta gue buat minta Bayu supaya ngajarin dia secara privat. Dia nggak berani bilang ke Bayu secara langsung. Katanya karena gue terlihat dekat dengan Bayu makanya dia minta gue menyampaikan ini. Tapi karena hal yang tadi Wanda ceritakan, gue jadi ragu kalau ini emang sengaja dibuat sama si Dimas.”jelas Hadyan.

“Udah gue bilang Hadyan gak mungkin jadi pengkhianat.”desis Wanda pada Anton. Anton hanya tersenyum kecut. Sial! Dia kalah lagi dari si ketua basket itu!

“Jadi, nasib kita sekarang gimana?”tanya Fiki.

“Iya, apakah gue tetep ngelanjutin rencana awal kita? Eh, maksudnya ide awal gue buat ngajarin si Dimas? Mumpung ada celah gitu?”tanya Bayu.

“Tunggu dulu. Gue setuju sama pemikiran Hadyan. Gue takutnya ini emang udah ada yang ‘ngatur’ dan justru jadi jebakan sendiri buat kita. “ Wanda menatap ke sekeliling.

“Terus rencana lo apa?” Hadyan bertanya pada Wanda.

“Gimana sebelum kita dijebak, kita kasih jebakan duluan?” jawab Wanda menyeringai.

“Menjebak si Pengkhianat, ya?” Anton menimpali.

“Tapi… gimana caranya?” Fiki tak bisa menebak jalan pikiran Wanda.

Bersambung...


Mau tau lanjutannya:

Silakan kepoin Chapter 9: Belakang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar